Jumat, Juli 18, 2008

LIVING HARMONY

Harmoni, atau sering disebut keserasian hidup adalah hal jamak yang dicita-citakan semua komponen kehidupan. Hubungan manusia dengan lingkungan atau alam tidak pernah berjalan serasi. “Malthusian Crisis”, adalah salah satu tesis di jaman modern yang memperkuat tesis ketidakharmonian manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sebelumnya. Malthusian Crisis (Malthus) memperkuat homo homoni lupus (Hobbes).
Malthusian Crisis, peningkatan jumlah manusia bersifat geometrikal (deret ukur) sementara pertumbuhan penyediaan pangan (sumberdaya alam) bersifat aritmatikal (deret hitung) adalah kondisi yang menciptakan ketidakseimbangan. Maka tak salah, kondisi ini akan menciptakan kompetisi antarbinatang pintar (manusia) untuk saling memperebutkan sumber-sumber penyediaan pangan. Kondisi yang kemudian terjadi, Hobbes sebelum Malthus sudah memperingatkan, homo homoni lupus (manusia menjadi penindas bagi manusia lainnya) adalah watak dasar manusia (human nature) yang akan berlangsung dalam kondisi perang atau bentuk kompetisi lainnya.
Dalam teori-teori daya bertahan hidup, adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya tidak pernah ditujukan untuk bagaimana menciptakan lingkungan yang lebih baik, tetapi bagaimana berkompetisi, berperang, bertarung menyingkirkan para pesaingnya untuk tujuan monopoli atas lingkungan. Maksud dan tujuan adaptasi tetap eksploitasi sumber-sumber penyedia kebutuhan hidup (sumberdaya alam).Krisis minyak, krisis pangan, dan krisis iklim dunia adalah gambaran baru Malthusian Crisis yang mutakhir. Krisis-krisis ini adalah kondisi “yang tercipta dan mencipta” dari krisis yang satu ke krisis yang lain atau sebaliknya.
Krisis minyak menciptakan krisis pangan karena lahan hutan atau lahan pertanian (lahan produksi pangan) dialihkan untuk komoditas bahan baku minyak nabati (bahan bakar nabati-BBN), komoditas pangan beralih menjadi komoditas BBN. Krisis iklim tercipta karena eksplorasi dan eksploitasi minyak. Krisis berjalan dalam lingkaran setan, tanpa akhir.Lalu siapa yang mampu beradaptasi dalam kondisi yang demikian dan menjadi pemain utama lingkaran setan krisis?
Paparan Hobbes menjadi gambang, “homo homoni lupus” dimiliki oleh kelompok dominator-dominator, yaitu kelompok yang memiliki kuasa keuangan, kuasa politik, kuasa pengetahuan dan teknologi, jumlah besar atas populasi dan kuasa keunggulan dunia lainnya. Bukan sebuah pembenaran saat negara-negara maju dapat disebut sebagai pelaku adaptasi yang memiliki kuasa keunggulan-keunggulan tersebut. Uni Eropa, China, Amerika, Australia, Inggris, Arab dan negara maju lainya adalah pemilik kuasa-kuasa itu.Lalu bagaimana dengan harmoni sebagai harapan umat manusia dapat sedikit terwujud, dan meredam krisis?
Harmoni adalah anjuran bagi para kelompok-kelompok dominator. Kelompok dominator adalah kelompok yang seharusnya punya tanggung jawab memperbaiki lingkungan (alam). Kelompok-kelompok kuat ini yang seharusnya melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap krisis-kiris dunia. Bukan malah sebaliknya, kelompok-kelompok lemah, yaitu negara-negara berkembang yang mana pernah mengalami fase penyingkiran dan penindasan di masa-masa sebelumnya. Itu pun kalau memang harmoni adalah tujuan universal umat manusia.
Living harmony. --Posting oleh tJong Paniti ke Bengkel Ekologi Indonesia pada 7/16/2008 12:07:00 AM