Senin, Mei 16, 2011

Menggali Akar Etnik Betawiku

Aku dan Kebetawian

Aku lahir di Jakarta hari Kamis jam sembilan pagi bulan Maret 34 tahun yang lalu. Dilahirkan dari rahim emakku yang sebelumnya sudah melahirkan lima orang kakakku. Emakku orang Betawi. Demikian ayahku, juga Betawi. Keduanya sama-sama Betawi di Tegal Parang, salah satu Kelurahan di Kecamatan Mampang Prapatan di bilangan Jakarta Selatan. Kedua orangtua dari orangtuaku juga Betawi. Demikian juga kakek neneknya, Betawi. Jadi aku bisa mengklaim diriku adalah Betawi tulen, orang asli Jakarta.

Bicara soal Betawi, ternyata kategori suku Betawi baru masuk dalam catatan pertama kali saat sensus penduduk Jakarta, yang saat itu masih disebut Batavia, pada tahun 1930. Orang Betawi menjadi penduduk mayoritas Batavia waktu itu dengan jumlah penduduk sebanyak 778.953 jiwa. Mendiang Prof Dr Parsudi Suparlan, seorang antropolog dari Universitas Indonesia, pernah menyatakan bahwa kesadaran sebagai orang Betawi belum mengakar pada awal pembentukan etnis ini. Orang Betawi lebih sering menyebut diri mereka berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka, misalnya orang Rawa Belong, orang Tegal Parang, orang Kemayoran, atau orang Condet, dan seterusnya. Dan sampai sekarang pun masih begitu. Orang Betawi masih menyebut orang Betawi lainnya dengan sebutan lokasi tempat tinggalnya. Orang Tanggerang, orang Marunda, orang Tebet, orang Cawang.

Pengakuan terhadap orang Betawi sebagai sekelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik, dalam lingkup Hindia Belanda, juga baru muncul pada tahun 1923. Di saat Muhammad Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi[1].

Sekarang kebanyakan orang Betawi sudah tergusur dan tergeser ke tepi-tepi Jakarta dan keluar dari teritori ibukota. Tahun 1961 saja orang Betawi sudah jadi minoritas di Jakarta. Saat itu penduduk Jakarta bersuku Betawi terdapat kurang lebih 22,9 persen dari 2,9 juta penduduk. Namun jika melihat asal-usul etnis Betawi, maka bisa dikatakan orang Betawi tidak pernah tergusur, karena hingga sekarang masih terus terjadi asimilasi antar sesama pendatang yang sudah turun-temurun bergenerasi-generasi tinggal di Jakarta dan dengan pendatang baru, yang artinya orang Betawi terus-menerus bermunculan seiring terjadinya asimilasi.

Beberapa yang masih tersisa dari proses asimilasi penduduk Jakarta, atau pembentukan orang Betawi, atau untuk mengetahui asal-usul salah satu keluarga Betawi, adalah dari kosa kata yang digunakan sehari-hari. Misalnya saja aku, memanggil kakekku dari garis ayahku dengan panggilan Abe’. Kata Abe’ berasal dari bahasa Arab Aba yang artinya bapak. Abe’ sebenarnya panggilan ayahku ke bapaknya, namun karena rumah orangtuaku dengan orangtuanya berdekatan dan aku seringkali mendengar ayahku memanggil bapaknya abe’, maka akupun ikut-ikutan memanggil kakekku abe’ sejak kecil. Melihat perawakan abe’ku yang tinggi, berhidung mancung, berkulit agak gelap, dan sangat fasih berbahasa Arab, bisa jadi asal-usul nenek-moyang kakekku berasal dari jazirah Timur Tengah (Arab). Mungkin.

Berbeda dengan kakekku dari garis emakku. Aku memanggil kakek dari garis emakku dengan panggilan Engkong. Orangtua emakku ini memiliki ciri fisik yaitu berkulit terang dan bermata sipit, apalagi mata nenekku. Suatu kali Prof Dr James Danandjaja[2], dalam perkuliahan Folklore dalam Kajian Kebudayaan di semester genap tahun 2011, mengatakan padaku bahwa berdasarkan panggilan Engkong kepada kakekku dari garis ibuku menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan darah Tionghoa ada pada diriku. Menurut Sadeli[3] (2009:7), Engkong merupakan kata panggilan untuk kakek dari bahasa Tionghoa yang telah dipakai sehari-hari oleh masyarakat Indonesia.

Penelusuran Kekerabatan dan Pertalian Darah

Aku lalu mulai menelusuri silsilah keluargaku untuk melihat kemungkinan ada darah Tionghoa atau darah etnis apapun di diriku, dimulai dari emakku. Emakku Hajjah Juriah, adalah anak bungsu dari enam bersaudara hasil pernikahan Haji Muhammad Zein dan Hajjah Maswah. Kakak-kakaknya, dimulai dari yang paling sulung yaitu Hajjah Zainabun (perempuan), Hajjah Siti Zuhronah (perempuan), Haji Masduki (laki-laki), Muhammad Syafi’i (laki-laki), dan Asmawi (laki-laki).

Haji Muhammad Zein adalah anak tunggal dari pasangan Haji Husin dan Fatma. Haji Husin adalah anak dari Sarbini, Sarbini anak dari Zakaria alias Wan Tue. Emakku dan kakak-kakaknya tidak ada yang mengetahui siapa pasangan dari Sarbini dan Zakaria (lihat gambar silsilah keluarga Haji Muhammad Zein). Fatma adalah anak dari Haji Laing, tidak ada yang mengetahui siapa ibu dari Fatma. Mereka semua lahir dan besar di Tegal Parang.

Kemudian Hajjah Maswah, nenekku, yang biasa kupanggil Nyai Mas, ibu dari emakku, adalah putri tertua dari tujuh bersaudara. Adik-adiknya yaitu Abdul Majid (laki-laki), Mas’ah (perempuan), Marulloh (laki-laki), Masnah (perempuan), Su’aidah (perempuan), dan Masnun (perempuan). Mereka adalah anak-anak dari pasangan Ki Hamid dan Maemunah. Kemudian generasi selanjutnya ke atas tidak ada yang mengetahuinya. Mereka semua juga lahir dan besar di Tegal Parang.

Salah satu sebab tidak dikenalnya nama ibu atau nenek-nenek mereka karena dalam tradisi mendoakan orangtua, yang disebut adalah nama mendiang dan bapaknya. Misalnya: Haji Husin bin Sarbini, Sarbini bin Zakaria, Zakaria bin Fulan. Fulan digunakan karena tidak diketahui nama yang bersangkutan. Islam yang patrilinealistik menyebabkan nama ibu tidak pernah disebut dan kurang dikenal.

Berdasarkan penelusuran silsilah keluarga bapak dari kakek emakku, tidak kulihat adanya relasi keluargaku dengan unsur ke-Tionghoa-an, yang ada justru bau-bau Melayu dari Zakaria yang dipanggil Wan Tue. ”Wan” di sini, menurut emakku, adalah panggilan untuk orang yang sudah menunaikan ibadah haji, sedangkan ”Wan” bagi orang Melayu di Kalimantan Barat adalah panggilan untuk nenek. Namun masih ada kemungkinan darah Tionghoa berasal dari garis ibu dari bapak emakku, yaitu Fatma. Bapak dari Fatma bernama Haji Laing. Mungkin saja, menurut emakku, Laing adalah nama Tionghoa.

Susur galur berlanjut ke keluarga ayahku. Ayahku, Haji Abdullah, adalah sulung dari lima bersaudara, adik-adiknya yaitu Abdul Hamid (laki-laki), Abdul Latif (laki-laki), Hajjah Maryamah (perempuan), dan Hajjah Ulyah (perempuan). Lahir dari pernikahan Haji Ali dan Hajjah Halimah. Haji Ali adalah anak tunggal dari pasangan Sajir dan Siti (nek Iti). Sajir adalah anak dari Romli, ibu dari Sajir belum diketahui namanya. Dan Siti adalah anak dari Ki Piun, ibu dari Siti juga belum diketahui namanya. Mereka semua pun lahir dan besar di Tegal Parang.

Hajjah Halimah adalah anak dari Haji Ahmad dan Hajjah Maryam (biasa dipanggil Nyak Nce, karena anak bungsunya adalah Aisyah yang dipanggil Nce). Bapak dari Haji Ahmad yaitu Haji Entong, sedangkan ibunya belum diketahui namanya. Dan Hajjah Maryam adalah anak dari Saihun, ibunya juga belum diketahui namanya. Keluarga ibu dari ayahku ini rata-rata lancar bahasa Arab. Beberapa anak sepupu ayahku dari garis ibunya disekolahkan di Cairo, Mesir. Pendidikan agama menjadi sangat penting dan sangat ditekankan kepada cucu-cucu Haji Ahmad. Mereka semua lahir dan besar di Tegal Parang. Nenek moyangku semua asli orang Tegal Parang.

Dari silsilah kedua orangtuaku di atas, belum dapat ditemukan akar keetnisan keluargaku. Karena itu kemudian aku coba menggalinya dari tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan keluargaku. Karena mungkin dengan menelusuri bagaimana budaya Betawi ditransmisikan dalam keluargaku akhirnya dapat diketahui akar etnis keluargaku, seperti didefinisikan Durham[4] (2002:196) bahwa kebudayaan adalah informasi yang ditransmisikan secara sosial (socially transmitted information).

Menurut Durham kebudayaan itu ada di dalam kepala orang-orang yang menjadi “carrier” kebudayaan, pembawa/pewaris kebudayaan, kemudian disebar dan ditransmisikan secara sosial dalam kelompoknya. Menurut Durham, pada satu kelompok sosial setiap orang akan menyeleksi dan mempertahankan varian-varian kebudayaan yang sesuai dengan kelompoknya dan ditransmisikan secara sosial kepada kelompoknya. Sehingga untuk mempelajari kebudayaan dapat dilakukan dengan melihat ihwal-ihwal atau varian-varian (informasi, ide, kepercayaan, dan simbol) yang membentuk kebudayaannya.

Tradisi yang dilakukan orang Betawi kebanyakan berkaitan dengan agama Islam. Menurut Danandjaja[5] (2007:208) agama merupakan folklor sebagian lisan. Tradisi yang berkaitan dengan agama Islam yang dilakukan orang Betawi tersebut berkisar pada kelahiran hingga kematian, yaitu upacara-upacara, ritual-rital yang dianjurkan hingga diwajibkan oleh agama untuk dilakukan, seperti nujubulan, akekah, walimah urusy, arwahan (sedekah kematian) satu sampai tiga hari, arwahan tujuh hari, arwahan 40 hari, arwahan 100 hari, dan haul (arwahan setiap tahun sekali pada tanggal kematian berdasarkan kalender hijriah atau kalender Islam).

Aku mencoba menyoroti pada ritual akekah. Akekah merupakan sebutan orang Betawi untuk ritual Aqiqah, kadang disebut kekah atau kekahan. Secara bahasa aqiqah berarti rambut yang berada di kepala bayi yang baru dilahirkan dan aqiqah juga berarti pemotongan kambing[6].

Akekah adalah ritual penyembelihan kambing untuk anak yang baru dilahirkan. Jumlah kambing yang disembelih tergantung jenis kelamin anak. Anak laki-laki afdholnya dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan cukup satu ekor saja. Ada juga yang berpendapat satu ekor cukup untuk anak laki-laki. Pendapat ini berdasarkan hadits (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW[7]) yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Rosulullah telah mengakekahkan Al-Hasan dan Al-Husin (anak Nabi Muhammad SAW) satu kambing satu kambing.

Ritual ini di dalam Islam ada yang menganggap wajib dilakukan dan ada yang menganggap sunnah[8] muakkad atau sangat dianjurkan.

Kambing akekah ini lalu dimasak dan dimakan bersama-sama atau dibagikan sebagai sedekah kepada tetangga, orang yang membantu persalinan, fakir dan miskin. Daging akekah yang boleh dimakan sendiri tidak boleh lebih dari sepertiganya.

Saat akekah merupakan saat yang dianjurkan untuk memberi nama pada bayi. Pada saat akekah dilakukan ritual cukur rambut bayi. Pencukuran biasanya dilakukan oleh semua yang hadir saat itu sambil mengumandangkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Rambut tersebut kemudian ditimbang dengan emas atau perak, kemudian disedekahkan senilai emas atau perak tersebut kepada fakir miskin. Tujuan mencukur rambut tersebut adalah untuk menghilangkan penyakit, menguatkan syaraf-syaraf kepala bayi, dan mempererat ikatan dengan fakir miskin dengan menyedekahkannya.

Apa yang dilakukan orang Betawi adalah seperti apa yang dikatakan Sahlins[9] (1976:212) yaitu suatu tindakan ritual yang diorganisir oleh satu struktur kekerabatan, dan hubungan yang terbentuk antara individu dengan kelompok dalam masyarakat melalui ritual tersebut urgensinya adalah untuk mempertahankan relasi kekerabatan.

Tradisi akekah sudah dilakukan keluargaku secara turun-temurun. Pada suatu kesempatan makan malam dia bercerita:

”Waktu mpok lu, Su’de (panggilan dari Su’aidah), lahir (16 Juli 1962) engkong lu dateng ke rumah bilang ke ayah luntar lu beli dah kambing, bawa ke rumah gue, potong di sono, kebetulan di masjid (dekat rumah engkong) ade muludan, ade habib[10] dateng, gue akekahin anak lu di masjid biar diusap habib palenye”. Terus ayah lu beli kambing, dibawa ke rumah engkong lu, mpok lu diakekahin di sono. Kate engkong lu pale mpok lu udah diludahin ame habib, kali maksud die disembur puhh”, ditiup ame habib kali, bukan diludahin beneran. Engkong lu girang banget cucunye diludahin habib. Anak gue yang diakekahin di rumah engkong ade dua, mpok lu ame sape ye atu lagi ye, gue lupe. Yang laen semuanye di sini.”

Dari pernyataan emakku di atas tampak sekali bahwa tradisi melakukan akekah sudah kuat di keluarga kami, yang juga tampak dengan bagaimana antusiasnya Engkongku menyambut hari pengakekahan dan meminta akekah dilakukan di rumahnya karena bersamaan dengan maulid Nabi Muhammad SAW yang akan dilangsungkan si masjid dekat rumahnya dan dihadiri oleh seorang habib.

Mengenai bagaimana emakku mengetahui, memahami, dan melakukan akekah selama ini ia menjelaskan begini:

Akekah ntu sunnah Nabi, ngerjain akekah same juga bukti kalo kite taat ame Alloh. Gue diajarin gitu ame guru-guru. Orangtue-orangtue kite juga ngerjain. Akekah same sunnahnye ame qurban, cuman kan kalo qurban kite diuji sejauh mane sayang kite ame harte kite dengan ngurban tiap taun. Dikasi contohnye Nabi Ibrohim yang diuji sejauh mane die taat ame Alloh dengan disuruh ngorbanin anaknye, anak atu-atunye padahal, die ndiri lagi tuh yang disuruh motong, gak tege banget kan tuh. Nah, kalo akekah kite diuji sejauh mane sayang kite ke anak kite dengan care yang diajarin Nabi.”

Dari penjelasan emakku jelas sekali bahwa faktor agama menjadi pengarah dalam bertindak sehari-hari. Ritual akekah yang dilakukan keluargaku bukanlah tindakan yang dilakukan semata karena tradisi dalam keluarga, namun lebih dari itu ritual akekah dilakukan karena telah diatur oleh agama. Agama Islam telah menjadi sistem budaya kebanyakan orang Betawi, seperti Geertz[11] mendefinisikan agama sebagai berikut:

”(1) system symbol yang bertindak untuk (2) membangun suasana hati yang kuat, menyeluruh, tahan lama dan motivasi pada manusia dengan (3) merumuskan konsepsi tatanan umum tentang eksistensi dan (4) menyandangkan konsepsi ini dengan faktualitas aura yang (5) suasana hati dan motivasi-motivasi yang tampak nyata secara unik.”

Dengan demikian penjelasan ritual akekah belum menjawab pertanyaan apa akar etnikku. Tapi dapat menjawab sistem budaya Betawi yang dilandasi oleh agama Islam. Untuk menggali akar etnik Betawiku perlu ditelusuri dari jenis folklor Betawi lainnya, seperti dari obat-obatan, makanan. Penelusuranku memperkuat bahwa etnik Betawi merupakan hasil proses asimilasi warga Jakarta yang datang dari berbagai daerah dan dari berbagai suku bangsa dan memberi warna dalam aktivitas keseharian warganya secara turun-temurun.



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi, diakses pada 11 Mei 2011.

[2] Komentar personal, 2011

[3] Sadeli, Eddy. et al. 2009. Sumbangsih Suku Tionghoa untuk Tanah Air Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tionghoa di Indonesia.

[4] Durham, William. 2002. Cultural Variation in Time and Space: The Case for The populational Theory of Culture, dalam Richard G. Fox and Barbara J. King, eds. Anthropology Beyond Culture, hal. 193-206. Oxford, New York: Berg.

[5] Danandjaja, James. 2007. Folklor Tionghoa : Sebagai Terapi Penyembuh Amnesia terhadap Suku Bangsa dan Budaya Tionghoa. Jakarta: Grafiti.

[7] Singkatan dari Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya Allah bershalawat atasnya dan memberikan keselamatan.

[8] Sunnah adalah suatu perkara yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa (http://daikembar.com/pengertian-fiqih, diakses 16 Mei 2011)

[9] Sahlins, Marshall. 1976. Culture and Practical Reason. Chicago: The University of Chicago Press.

[10] Habib dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

[11] Bab Religion as Cultural System dalam Geertz, Clifford. 1977. The Interpretation of Culture. New York: Basic Book.

0 komentar:

Poskan Komentar