Tetangga kantorku, yang mungkin lebih enak dibilang rumah, adalah pemilik kedai nasi sangat sederhana. Antara kami berdua tidak mengenal nama, aku panggil dia kakak, dia panggil aku adek. Kalau dia lagi cerita tentang suaminya, selalu dia bilang "Abangmu itu...", walaupun aku dengan suaminya tak banyak bicara, ya paling kalau dia lagi perlu motor dia bilang pinjam, selebihnya cuma senyum kalau bertemu tatap.
Si kakak senang sekali kalau ditanya soal masakan, soal varietas padi nasi yang kumakan di kedainya, soal sayuran lokal khas Sipirok Tapsel. Sudah hampir seminggu ini dimasakkannya aku macam-macam sayur atau sambal khas Sipirok yang selalu dibanggakannya.
Hari ini dengan bangga disajikannya aku sambal sinyarnyar, dibuat dari tanaman sinyarnyar ditambah ikan salai, keduanya ditumbuk sampai teksturnya kayak abon. Bentuk buah sinyarnyar mirip sahang, rasanya mirip mint, daunnya kayak daun stroberi, setidaknya itulah kata si kakak.
Dihidangkannya sambal sinyarnyar dengan nasi siporang, gulai ikan mas, sayur jantung pisang. Ada juga gulai ayam. Tapi sepertinya kurang pas. Oya, ada lagi menu yang melengkapi makan siangku ini, pete rebus. Ah, terang kalilah Sipirok siang ini. Senang sekali aku dipertemukannya aku dengan orang-orang baik dan masakan-masakan kedai nasi sederhana dengan menu-menu tradisionalnya.
Sabtu, Agustus 01, 2009
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar